acehsumatra.co.id (Jakarta) – LBH Masyarakat prihatin dengan rangkaian peristiwa yang harus dihadapi oleh Saudara FAS dan
keIuarga. LBH Masyarakat juga menyampajkan belasungkawa yang paling dalam atas berpulangnya ibu YR, istri dari Saudara FAS,”DaIam mempersiapkan konferensi pers ini, LBH Masyarakat juga sudah
berkomunikasi dengan pihak keluarga,”kata Analisis Kebijakan Narkotika LBH Masyarakat, Yohan Misero, kepada media, di Kantor LBH Masyarakat, Tebet Timur Dalam, Jakarta, Minggu (2/4)
BerawaI dari divonisnya lbu YR (AIm.) dengan penyakit Syringomyelia, sebuah situasi dI mana ada kista di sumsum tulang belakang. Kista ini dapat mengembang dan memanjang sedemikian rupa hingga akhirnya dapat mengganggu banyak bentuk aktivitas, misalnya kesulitan untuk tidur, makan dan minum, ekskresi, rasa sakit yang luar biasa, sulit berinteraksi, dan lain-lain.
“Begitu dahsyatnya situasi yang harus mereka hadapi. Telah dicoba pula berbagai perawatan konvensional dan alternatif. Sempat juga ada keinginan untuk membawa ibu YR ke luar Kalimantan
untuk berobat. Namun kondisi ibu YR saat itu tidak memungkinkan untuk melakukan perjaIanan jauh,”ujar Yohan, pada diskusi ‘Sebuah Momen Instropeksi:Pelarangan Semata Atau Memberi Kesempatan Pada Cinta’
Sambungnya, dalam keputusasaan, harapan itu muncul dari sebuah tanaman yang di Indonesia dikategorikan sebagai narkotika golongan l, Ganja. Ekstrak ganja datang sebagai suatu kemungkinan yang patut dicoba untuk memperpanjang kehidupan istri FAS. Mari letakkan posisi kita sebagai seseorang yang sedang memperjuangkan nyawa teman hidup. Tempatkan diri kita pada seseorang yang berusaha untuk mempertahankan sosok seorang ibu dalam kehidupan anak-anak kita. Pemanfaatan ganja untuk kepentingan kesehatan Ibu YR Ini yang kemudian membuat Saudara FAS ditahan hingga hari ini.
Menurut Yohan, Ada beberapa haI yang patut kita pikirkan terkait kasus Ini: Yang pertama, UU Narkotika memang sebenarnya tidak mengakomodir penggunaan ganja untuk tujuan medis. Namun bukan berati haI ini tepat, justru ketentuan ini patut ditinjau uIang. PasaI 8 UU Narkotika meIarang pemanfaatan narkotika goIongan I untuk kesehatan. Pasal 8 ini pun tidak seirama dengan PasaI 7 UU Narkotika yang mengunci pemanfaatan narkotika hanya untuk kesehatan dan perkembangan iptek. Pada reaIitanya, golongan I tidak boleh digunakan untuk kesehatan. Upaya riset terhadap zat dan tanaman di goIongan I tidak mudah mendapatkan persetujuan. UU Narkotika tidak seharusnya melarang pemanfaatan zat atau tanaman apa pun untuk kesehatan.
Berikan kesempatan pada peneIItian untuk membuktikan manfaat zat atau tanaman tersebut untuk kemanusiaan. Berikan kesempatan juga untuk anak-anak muda Indonesia membuktikan bahwa apa yang tumbuh di tanah yang ia cintai, dapat berguna untuk banyak orang. Ilmu pengetahuan sudah sedemikian maju sehingga dampak buruk dari suatu zat, jika ada, dapat dihilangkan dan dI saat yang sama mempertahankan sifat baik daripada zat tersebut. Percayalah bahwa iImuwan-ilmuwan kita mampu untuk Itu dan percayaIah bahwa Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dapat kita andalkan untuk mengawasj proses itu.
Yang kedua, pemenuhan hak. Hak atas kesehatan adaIah sesuatu yang deamIn oleh Konstitusi, UU HAM, dan Kovenan Ekosob yang sudah diratifikasi Indonesia. Prinsipnya, hak atas kesehatan adalah hak semua orang dan Pemerintah sudah seharusnya memenuhinya. SaIah satu aspek pemenuhan hak atas kesehatan adaIah availibility atau ketersediaan serta accesibi/ity atau keterjangkauan. Oleh karena itu, momentum ini dapat Pemerintah jadikan kesempatan untuk muIai merumuskan uIang kebijakannya. Agar ke depan, bagi seluruh rakyat Indonesia terjamin ketersediaan dan keterjangkauan akan hak atas kesehatan, termasuk di daIamnya akses terhadap narkotika golongan I di mana ganja masuk di dalamnya. Cukup satu lbu YR, jangan biarkan ada anak bangsa Iagi yang hilang karena kita tak mau memberikan kesempatan pada pengetahuan. Kita yakin Indonesia mampu ‘Iebih baik dari ini.
Yang ketiga, persoalan hukum Saudara FAS. Menurut pandangan kami, seteIah merujuk pada faktafakta umum kasus ini, pasal yang paling mungkin dikenakan pada Saudara FAS adaIah PasaI 111 UU Narkotika terka’it penanaman dan pemeliharaan narkotika golongan I jenis tanaman. Ancaman pidana yang tertera pada ayat 2 pasal tersebut ialah seumur hidup.
Ketika rekan-rekan penegak hukum, dalam hal ini BNN, menganggap bahwa jika mereka tidak menyidik kasus ini maka mereka salah karena tidak turut dengan UU, bagi kami anggapan tersebut tidak tepat. Penghentian penyidikan dapat dilakukan melalui Pasal 109 ayat 2 KUHAP. Justru karena kasus ini sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan, BNN, atau Kejaksaan apabiIa kasus ini tetap diteruskan BNN, dapat menampilkan wajah penegakan hukum yang tidak humanis. Ketika pidana dianggap sebagai sebuah upaya untuk mewujudkan keadilan di ranah publik, maka tidak tepat kemudian menempatkannya di sini karena tidak ada niat jahat apa pun pada kasus ini. Tidak adanya impiikasi publik apa pun dari apa yang dilakukan Saudara FAS terhadap Ibu YR. Kasus ini adaIah sebuah wujud cinta yang luar biasa indah. Justru situasi ini memburuk ketika hukum mengintervensi.
Yang keempat, perhatian pada situasi anak. Bahwa justru karena niat Saudara FAS untuk mempertahankan keluarganya, anaknya kini sebatang kara tanpa orang tua yang mendampinginya. ‘Ibunya meninggaI karena tak bisa mengakses obat yang ia butuhkan, ayahnya juga ditahan.
Kesejahteraan, kesehatan, dan tumbuh kembang anak merupakan hal yang juga patut diperhatikan karena perIindungan anak pun merupakan aspek penting dalam segala kebijakan. Pemerintah
mampu untuk menolong anak ini dengan merelakan Saudara FAS untuk tetap hadir di sisi anaknya.
Maka melalui konferensi pers ini, kami memohon dengan segaia kerendahan hati kepada Presiden Republik Indonesia, Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, KepaIa Keiaksaan Agung Repuink Indonesia, Kepala Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia, KepaIa KepoI‘Isian Repubnk Indonesia, Menteri Kesehatan Republik Indonesia, serta seluruh Iembaga/kementerian yang
berkaitan untuk:
1. Mendorong penghentian penyidikan terhadap kasus Saudara FAS; 2. Membuka kesempatan bagi penelitian terhadap zat dan tanaman di goIongan I narkotika, dengan menempatkan ganja sebagai prioritas; 3. Meninjau uIang kebijakan narkotika untuk membuka akses dan meniamin ketersediaan narkotika goiongan I, di mana ganja ada di dalamnya, bagi pemenuhan hak atas kesehatan rakyat Indonesia.
“Percayalah, #PenjaraBukanSolusi. Bukan hanya untuk keluarga Saudara FAS dan Ibu YR. Namun untuk kita semua, rakyat Indonesia,”pungkasnya
Komentar