acehsumatra.co.id (Jakarta) – Dunia kedokteran Indonesia sepanjang 2016 mendapat sorotan, mulai dari mahalnya biaya pendidikan, perizinan fakultas kedokteran, lulusan rendah polemik  Dokter Layanan Primer, dan ketersediaan dosen.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sebagai stakeholder di bidang kesehatan memiliki tanggung jawab dari berbagai persolan dunia kedokteran Indonesia.Karena itu dalam rangka meningkatkan kesadaran bersama, PB IDI mengelar diskusi awal tahun sebagai forum rembug bersama.pemangku kebijakan dalam mensikapi persoalan tersebut.
“Persoalan utama capaian rasio dokter dan penduduk , distribusi dokter spesialis, penguatan pelayanan primer, serta standar global pendidikan kedokteraan,”ujar Ketua Umun PB IDI, Prof Dr Ilham Oetama Marsis Sp OG, pada sela-sela diskusi di kantor PB IDi, Jakarta, Rabu (11/01)
Padahal, menurut Ilham, Indonesia saat ini harus berkosentrasi terkait penerapan Masyarakat Ekonomi Asean, dan pencapaian National Health Converage melalui program Jaminan Kesehatan Nasional.
Oleh karena itu, memperbaiki dan menyiapkan pendidikan dokter  yang lebih baik kedepan secara mendasar melakukan revisi UU No 20/2013 tentang pendidikan kedokteran yang tidak lagi sesuai dengan filosofi awal serta perkembangan yang ada.
Sambung dia, persoalan ini perlu adanya pemangku kebijakan legeslatif memiliki kewenangan dalam memproduksi UU.Selain itu kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran bersama terkait situasi sebenarnya dipendidkan  kedokteran Indonesia.(zal)
Komentar