globalnews.co.id (Jakarta) –  Masa kampanye Pemilu Kada serentak tahun 2017 telah selesai, saat ini kita memasuki hari tenang di 101 daerah yang menyelenggarakan pilkada,”kami mengamati meskipun kita melakukan pilkada di 7 provinsi, 76 kabupaten dan 18 kota di seluruh indonesia, Pilgub DKI adalah yang paling menyita energi dan perasaan kebangsaan kita.Pilgub DKI 2017 ini sejauh pengamatan kami telah menimbulkan gesekan yang berpotensi memecah belah bangsa jika tidak disikapi secara baik dan bijak,”tulis rilis yang dikeluarkan oleh Seknas Jokowi, pada konferensi pers di Jakarta (13/2)

Menurut hemat kami, panasnya Pilgub DKI tidak semata-mata karena Jakarta ibu kota negara, tetapi lebih karena tingkah laku para elit yang memperlakukan DKI sebagai batu lompatan (step stone)menuju pilpres 2019,”hal inilah yang menyebabkan eskalasi ketegangan yang begitu mencekam selama masa kampanye, seolah-olah jabatan gubernur adalah adalah sebuah harga mati yang layak diperjuangkan dengan mengorbankan persatuan dan kesatuan kerukunan, toleransi dan keutuhan bangsa,”tulis rilis tersebut

Upaya mengejar jabatan gubernur DKI ini menjurus memecah belah anak bangsa, menghadap-hadapkan rakyat dengan mengekspotasi isu-isu dan sentimen primordial bernuansa sara, “udara yang kita hirup telah terpolusi begitu pekat dengan berbagai fitnah (hoax)kebencian kecurigaan dan adu domba.Kenyamanan kita berbangsa dan bernegara tergangun karena melanggar kepatutan dan kesantunan,”tambahnya

Lebih lanjut, sebagai Bangsa Indonesia serta adanya aroma memaksakan kehendak dari konstestan, kami menyaksikan bagai mesin-mesin opini digerakkan untuk menyeret nyeret Presiden Jokowi ke dalam pusaran konfilk.(zal)

Komentar