JAKARTA (acehsumatra.co.id) Badan Pemberdayaan Perempuan Dewan Pimpinan Pusat Partai Amanat Nasional (DPP PAN) bekerkasama dengan Biro Pengkajian MPR RI dan Fraksi PAN DPR RI mengelar Seminar Peningkatan Peran Perempuan Dalam Pilkada Serentak 2018, di Balairunf Kirana, Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Kamis (18/5)

Seminar dibuka oleh anggota MPR RI Fraksi PAN, Amran, SE, yang juga salah satu nara sumber dalam seminar itu mengatakan menaikan elektabilitas calon perempuan dengan mensinergikan beberapa perangkat yang ada seperti penyelenggara, tim sukses, harus direbut oleh perempuan,”ini salah satu pintu membuka kran cara menaikan elektabilitas,”ujarnya dalam seminar menghadiri nara sumber antara lain, Euis F Fatayati (Ketua Badan Pemberdayaan Perempuan DPP PAN), dan Sri Eko Budi Wardani (Dosen Ilmu Politik Universitas Indonesia)

Amran juga berpendapat bingkai perempuan dalam politik Pemilu, Pilkada, dan Pilpres kedepan posisi perempuan ada dimana?Hal ini kata Dia perlu terus digali melalui kebiasaan berseminar untuk mendapatkan pemecahan persoalan, jawaban tantangan yang ada, baik perjuangan secara regulasi yang tujuan untuk memanfatkan quata yang diberikan benar-benar bisa meningkatkan peran perempuan dalam Pilkada serentak 2018.

“Perempuan jangan hanya jadi pelengkap, tunjukan jati diri sebagai srikandi Indonesia yang mampu bersaing,”imbuhnya

Menurut, Ketua BPP DPP PAN, Euis F Fatayani, seminar bertujuan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pentingnya keterlibatan perempuan dalam Pilkada Serentak 2018, mengevaluasi keterlibatan perempuan sebagai calon dalam pilkada serentak sebelumnya, mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat keterlibatan perempuan dalam pilkada serentak dan keterkaitan dengan pemilu legislatif, merumuskan strategi dan rencana aksi peningkatan peran perempuan dalam pilkada serentak dan Pemilu.

Dari beberapa narasumber secara umum menyoroti fenomena timpangnya jumlah perempuan di ekskutif.Hal ini didasari oleh dua fakror penyebab utama yakni partai cenderung berorentasi pada aspek elektabilitas dan kekuatan modal serta faktor dinasti politik.

Selanjutnya, partai tidak punya suplai kader perempuan yang memadai.Kecenderungkan ini disebabkan karena partai tak punya mekanisme perekrutan anggota yang inklusif dan terbuka.

“Keterwakilan perempuan dalam politik bisa ditingkatkan apabila kita bisa mengubah paradigma dan perilaku partai jadi lebih terbuka terhadap perempuan,”jelas Euis.(red)

Komentar