Harapan masyarakat Aceh dalam menanti hadirnya pabrik Semen Indonesia Aceh pupus sudah, bukan hanya permasalahan konflik lahan dengan masyarakat sekitar, tetapi juga mucul persoalan internal dari pemegang saham PT Semen Indonesia Aceh yang merupakan kerjasama antara PT Semen Indonesia dan PT Samana Citra Agung. Akan kah permasalahan internal tersebut yang akan berimbas pada mati surinya Pabrik Semen di Laweung?

Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono pernah menyampaikan , pada tahun 2017, konsumsi semen di Tanah Air akan meningkat hingga 84,96 juta ton dari tahun 2016 sebesar 65 juta ton. Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto saat menghadiri acara ‘ Semen Indonesia Award On Innovation 2015-2016’ di Gedung Utama Semen Indonesia, Gresik, Jawa Timur, Senin (9/1/2017 mengatakan, nilai investasi industri semen pada tahun 2016 mencapai Rp 15 triliun.  Hal tersebut menunjukkan masih menariknya industri semen bagi investor dari dalam maupun luar negeri.

Sementara itu, dari data Semen Indonesia Grup saat ini telah memiliki beberapa pabrik di berbagai wilayah Indonesia. Total kapasitas produksi pada tahun 2016 sebesar 32 juta ton per tahun dengan 3.817 tenaga kerja. Tampaknya target dari Semen Indonesia untuk terus meningkatkan angka produksinya akan kandas seiring dengan penghentian beberapa pabrik semen yang sedang berjalan di Semen Indonesia.

Lain di Semen Indonesia (SI) lain pula di Samana Citra Agung (SCA), persoalan yang terjadi di Pabrik Semen Indonesia Aceh (SIA) selama ini selalu di kaitkan dengan permasalahan lahan yang di jadikan areal sebagai pembangunan dan penambangan Pabrik SIA yang sebelumnya milik dari SCA. Pihak SCA beberapa kali telah membantah bahwa lahan yang di kuasainya adalah milik masyarakat, SCA adalah pemegang sertifikat lahan seluas 1.558,83.

Belakangan timbul persoalan internal dari  SCA, dari pelaporan dugaan pemalsuan tandatangan sampai pada gugatan RUPS SCA yang di nilai cacat hukum. Muhammad Raziq Muniranda mewakili Andaman Ibrahim selaku Wali Pengampu mengajukan gugatan RUPS kepada Pengadilan Negeri Banda Aceh. Raziq menuntut bahwa RPUS SCA yang dilaksanakan pada tanggal 14 Juni 2017 tidak sah dan bertentangan dengan Undang-Undang No 40 tahun 2007 tentang Perseroan terbatas. Selaku pemegang saham 73 lembar di SCA Raziq menuntut untuk dilaksanakan RUPS ulang melalui Pengadilan Negeri Banda Aceh dengan agenda pembahasan pengalihan sebagian saham SCA di SIA kepada SI, perubahan susunan Direksi Perseroan dan menetapkan dalam RUPS dirinya sebagai Direksi mengnatikan kedudukan Andaman Ibrahim selaku ayah kandungnya, penjuanan tanah asset perseroan kepada SIA dan pembayaran hasil penjualan saham perseroan harus di bagi secara proporsional. Gugatan ini akan berimplikasi pada perjanjian kerjasama SI dan SCA dalam membangun SIA, karena pemindahan asset SCA dalam SIA belum mendapat persetujuan dalam RUPS sebagai mana gugatan Raziq terhadap Perseroan di PN Banda Aceh.

Terlepas dari kemelut yang sedang terjadi di dalam internal SI, SCA dan SIA, harapan masyarakat Aceh akan hadirnya pabrik semen ini telah memberikan harapan baru bagi Investasi di Aceh, dukungan dari Pemerintah dan masyarakat menjadi stimulus dalam upaya akselarasi pembangunan pabrik semen di Laweung.

Komentar