Keuchik Hagu Teungoh, Kota Lhokseumawe, Imran SE Foto : yeuk

Aceh Sumatra (LHOKSEUMAWE) – Keuchik Hagu Teungoh, Imran, menyebut program Corporate Sosial Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial PT. Pertamina Regional Lhokseumawe yang merencanakan pengembangan pariwisata pantai, sebagai program yang terlalu muluk. Padahal, masih banyak program yang lebih realistis dan mengena yang bisa direalisasikan.

Dalam bahasa lokal ia menyebut program itu dengan istilah cet langet yang boleh dimaknai bagai pekerjaan sia-sia.

Kritikan ini diutarakan Keuchik Imran kepada acehsumatra.co.id seusai dirinya mengikuti rapat pemaparan program CSR Pertamina di opprom Sekdako Lhokseumawe, Senin (16/4).

“Dalam pertemuan ini disampaikan program yang indah, program yang cukup luar biasa tinggi. cet langet ju djeut ta peugah” ucap Keuchik Imran.

Dalam rapat yang dipimpin Wakil Walikota dan sejumlah stake holder, Pertamina memaparkan rencana pengembangan pariwisata dan usaha produktif bagi masyarakat di sepanjang garis pantai wisata Ujong Blang.

Lima desa di kecamatan Banda Sakti yakni Gampong Ujong Blang, Ule Jalan, Hagu Barat Laut, Hagu Selatan dan Hagu Teungoh ditetapkan sebagai penerima manfaat.

Baca Juga : Pemko Lhokseumawe dan PT Pertamina Arahkan Program CSR untuk Pengembangan Sektor Pariwisata

Dalam pertemuan, kata Keuchik Imran, pihak Pertamina berencana memperindah kawasan pantai dengan membangun spot atau lokasi yang menarik untuk dikunjungi wisatawan. Lokasi ini nantinya dilengkapi dengan jajakan kuliner dan souvenir khas dari hasil usaha kerajinan dan ekonomi kreatif.

Pertamina, sebut Imran, ingin mengadopsi pengelolaan lokasi wisata seperti di daerah lain di luar propinsi Aceh untuk diterapkan di kota ‘petro dollar’.

Ketika ditanya keyakinannya akan keberhasilan program yang dipaparkan tadinya, Keuchik Imran tak meragukan bila dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Namun ia menilai masih banyak program yang bisa langsung menyentuh masyarakat di sekitar perusahaan beroperasi yang lebih diutamakan.

“Saya bukan tidak yakin. Jika pemerintah ingin melakukan apa yang tidak mungkin. Ini yang perlu saya katakan, jangankan untuk melakukan sebuah program yang seperti itu, yang kecil-kecil saja tidak mampu” ketusnya.

Ia menyebut tidak pernah ada kontribusi perusahaan selama ini utamanya pada bidang pendidikan dan kesehatan masyarakat.

“Coba kalau ingin bantu, kenapa tidak dipanggil anak yatim, lalu berikan beasiswa. Itu contoh untuk bidang pendidikan. Atau bidang kesehatan penanganan gizi buruk. Program itu lebih perlu dilakukan. Ini mana tanggung jawabnya selama ini” tuntut pimpinan gampong tempat perusahaan plat merah itu berdiri.

Ia berharap, program CSR yang merupakan amanah dari PP nomor 47 tahun 2012 yang harus dilaksanakan perusahaan itu benar-benar disusun sesuai kebutuhan dan keinginan masyarakat setempat. (yeuk)

Komentar