Tgk Fajri M. Kasim Akademisi Aceh dan juga mahasiswa Universitas Sultan Zainal Abidin (UNISZA), Negeri Jeran Malaysia. Dok : Ist

Aceh Sumatra (LHOKSEUMAWE) – Fenomena Tasawuf, Tauhid dan Fiqah (TASTAFI) yang dibangun oleh Ulama Dayah dan di gerakkan oleh Tgk Hasanoel Basry (Abu MUDI) adalah sesuatu kelompok pengajian yang mendapat respon positif dari berbagai elemen masyarakat di tanah air dan luar negeri.

Hal tersebut diungkapkan oleh Tgk Fajri M. Kasim, salah seorang Akademisi Aceh, yang saat ini sedang menyelesaikan pendidikan S3 di Universitas Sultan Zainal Abidin (UNISZA), Negeri Jeran Malaysia, melalui rilis yang diterima redaksi, Kamis (19/4).

Menurut Tgk Fajri ada tiga landasan Ilmu yang menjadi dasar penguatan dalam kehidupan ummat. Diantaranya, Tasawuh, Tauhid dan Fiqah (Tastafi). Ilmu ini harus dimiliki sebagai Ilmu dasar oleh setia hamba Allah yang Muslim.

“Bila kehidupan kita dikuatkan dengan konsep Ilmu, maka Islam akan berkembang, dengan tiga dasar ilmu tersebut. Bahkan di Malaysia, masyarakat Aceh dan Melayu sudah sangat antusias dalam mengikuti pengajaran Tastafi” kata Tgk Fajri.

Bukan saja di negeri Jiran, di Eropa Tastafi sudah dikenal berkembang luas. Bahkan mereka harus mendatangkan ustad-ustad dari Aceh untuk mengajarkan ilmu Tastafi.

Ditanah air, lanjut Tgk Fajri, selain di Provinsi Aceh, Tastafi juga sudah sangat  dikenal di wilayah Sumatera Utara, Jakarta dan beberapa daerah lain di Sumatera. Bahkan saat ini mereka sudah melakukan penjajakan untuk pembentukan Tastafi di daerah mereka.

“Abu Mudi, juga Tgk Muhammad Ami (Ayah  Amin) Cot Trung serta Ayah Sop (Tu Sop) di Jeunieb, dan ulama-ulama dayah lainnya adalah tokoh penting untuk membangun pondasi Tastafi ini” ungkap Tgk Fajri.

Dia menambahkan, Aceh secara Sosio Cultural sangat terbuka dan menerima terhadap penguatan keilmuan agama dan keislaman lainnya. Tastafi merupakan landasan penting untuk pembangunan karakter manusia Aceh sesungguhnya.

“Jadi kehadiran tokoh ulama dayah Aceh dalam membumikan ilmu dan amal serta Akhlakul Karimah harus menjadi sebuah gerakan penguatan kembali arus kebaikan di Nanggroe Aceh Serambi Mekkah” sebutnya.

Apa lagi dengan kondisi Aceh saat ini yang kerap diserang pemikiran dan ideologi yang bermacam-macam. Bahkan ideologi tersebut telah merasuki pemahaman pemikiran generasi muda Aceh. Maka suatu keharusan dan keniscayaan kehadiran tokoh ulama dayah Aceh untuk meluruskan akidah dan pemahaman yang berteraskan Ahlu Sunnah Wal Jamaah.

“Kemajuan Aceh dahulu sangat erat kaitannya dengan ilmu amal dan akhlak, untuk menghadapi tantangan kedepan. Akankah arus kebaikan itu akan menjadi arus utama untuk Aceh? Maka jawabanya sangat tergantung kepada para Pemimpin Aceh serta rakyatnya. Semoga Tastafi Aceh menjadi spirit untuk membangkitkan kembali semangat keilmuan dan ke-Islaman masyarakat Aceh, serta mampu untuk dipersembahkan kepada masyarakat  Islam di seluruh Dunia” pangkas Tgk Fajri. (Hasanuddin)

Komentar