Zulkifli (kanan)

ACEH SUMATRA, Lhoksukon – Zulkifli (33 tahun), wartawan media siber Sumugah.com wilayah tugas Kabupaten Aceh Utara mendapat perlakuan buruk terhadap profesinya dari oknum perangkat Gampong Mesjid Pirak Kecamatan Matangkuli.

Gegara pemberitaan tentang dugaan penyelewengan dana desa di gampong setempat, Zulkifli harus menghadapi ‘pengadilan’ ala gampong yang dipimpin Tuha Peut dan Geuchik Mesjid Pirak.

Menurut pengakuan Zulkifli, dirinya ‘dihadirkan’ ke meunasah pada Sabtu malam (12/5). Zulkifli mengaku diinterogasi oleh ketua tuha peut dan geuchik dihadapan masyarakat pada rapat gampong.

“Saya dijemput dari rumah disuruh datang ke meunasah untuk mempertanggungjawabkan berita yang pernah saya muat di Sumugah.com dengan judul ‘Bidan PTT Gampong Mesjid Pirak Aceh Utara Diduga Gelapkan Dana Posyandu’, 29 April 2018. Saya diinterogasi dihadapan masyarakat layaknya seorang pesakitan,” tutur Zulkifli yang juga warga setempat kepada Acehsumatra.co.id, Minggu (13/5).

Pada malam itu, terangnya, rapat dipimpin oleh Tuha Peut Salahuddin dan dihadiri Geuchik Sulaiman beserta perangkat gampong. Dalam rapat itu Zul dihadirkan untuk menjawab sejumlah pertanyaan dari Tuha Peut dan Bidan PTT terkait berita yang dibuatnya.

“Untuk apa kamu beritakan masalah itu? Kenapa gak minta ijin dulu kepada kami” tutur Zulkifli menirukan lontaran pertanyaan ketua tuha peut Salahuddin.

Sebelumnya, Zulkifli memberitakan dugaan penyelewengan dana desa di Mesjid Pirak. Berdasarkan laporan masyarakat, kata Zul, ia mendapat informasi dugaan penyelewengan dana program makanan tambahan untuk balita bersumber dari dana desa Mesjid Pirak tahun 2016. Dari Rp15 juta anggaran yang diplotkan, hanya Rp5,5 juta saja yang disalurkan.

Menurut Zul, pada saat itu dirinya pernah berupaya mengkonfirmasi perihal pemberian makanan tambahan ke penanggung jawab program.

“Saat itu, penangung jawab program yang juga bidan PTT, Amna tidak bersedia untuk dikonfirmasi. Malam kemarin, bukannya memberikan hak jawab, mereka malah memperlakukan saya sebagai seorang terdakwa. Saya diinterogasi dan diadili” ungkap dia.

Selain mendapat caci maki malam itu, lebih parah lagi kata dia, ketua tuha peut menyuruh Zulkifili untuk meninggalkan Gampong Mesjid Pirak untuk selamanya.

“Kami atas nama masyarakat mengusir kamu dari desa ini. Dan kami tidak lagi menganggap kamu sebagai warga Mesjid Pirak” kata Salahuddin sebagaimana ditirukan Zulkifli.

Ketua Tuha Peut Salahuddin (kanan) Keuchik Sulaiman dan Bidan PTT Amna saat menginterogasi Zulkifli di Meunasah Mesjid Pirak, Matangkuli, Aceh Utara, Sabtu malam (12/5).

Ia mengaku sangat kecewa dengan cara-cara yang dilakukan perangkat desa setempat. Ia merasa martabatnya sebagai manusia direndahkan dan profesinya sebagai wartawan dilecehkan.

Ia menduga ‘penghakiman’ ala gampong terhadap dirinya merupakan ketidaksenangan geuchik setempat terhadap kritik kerasnya terkait pengelolaan dana desa di Mesjid Pirak sejak tahun 2015 hingga 2017. Kritikan kerap ia beritakan hingga berujung pada laporan ke Kejaksaan Negeri Lhoksukon tentang dugaan penyelewengan dana desa.

“Kejari Lhoksukon telah menurunkan tim ke Gampong Mesjid Pirak pada 6 Maret 2018 untuk menyelidiki dugaan tersebut” imbuhnya.

Atas perlakuan segelintir pihak yang anti terhadap kritikan hingga berakhir caci-maki yang ia terima, Zul mengaku akan memproses secara hukum para pihak yang menghalangi perjuangannya dalam menciptakan pemerintahan gampong yang bersih dan transparan di Mesjid Pirak.

“Besok (Senin), saya akan laporkan Geuchik, Ketua Tuha Peut dan Bidan PTT ke Mapolres Aceh Utara atas dugaan menghalangi tugas jurnalistik sebagaimana diatur dalam UU Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers dengan ancaman hukuman 2 tahun penjara atau denda Rp500 juta” kata Zulkifli.

Media ini berulangkali mengkonfirmasi geuchik Mesjid Pirak, Sulaiman. Namun hingga berita ini ditayangkan, redaksi yang menghubungi geuchik setempat tidak mendapat jawaban. Dihubungi ke nomor jhapenya, Keuchik Leman tak menjawab, demikian pula pesan singkat yang dikirim juga tak berbalas.

Komentar