Tabung penghasil oksigen milik PT. Kaneubi Rahmat Raseuki di Gp. Uteun Bayi, Lhokseumawe yang mendapat protes warga. Dok : AS

ACEH SUMATRA, Lhokseumawe – Warga sekitar lokasi Stasiun Pengisian Oksigen di gampong Uteun Bayi, Kec. Banda Sakti memprotes keberadaan perusahaan yang disebut-sebut milik keluarga Wakil Wali Kota Lhokseumawe, Yusuf Muhammad.

Warga protes karena setelah perusahaan itu beroperasi, mereka kerap dikejutkan oleh suara ledakan keras seperti dentuman bahan peledak yang bersumber dari operasional usaha itu.

Menurut masyarakat sekitar, pihaknya tidak pernah mendapat informasi apapun terkait keberadaan perusahaan dimaksud. Meskipun bunyi dentuman hanya terjadi beberapa kali dalam sehari, namun suara ledakan yang disebut masyarakat teramat keras, cukup menganggu ketenangan masyarakat sekitar.

“Sudah beroperasi sejak beberapa waktu lalu, kami pernah lihat mobil milik salah satu rumah sakit di Lhokseumawe ini mengantar dan membawa tabung yang telah diisi” tutur seorang pemuda yang tak bersedia disebutkan namanya kepada acehsumatra.co.id, akhir pekan lalu.

Ia yang tinggal persis bersisian dengan perusahaan, mengaku kerap dikejutkan oleh suara dentuman keras yang berasal dari tabung penghasil oksigen. “Suara dentuman keras, seperti suara bom. Dentuman terjadi tak menentu, kadang pagi, kadang siang maupun malam hari. Katanya, suara dari pembuangan. Kami panik karena mengira suara itu menandakan ledakan atau kecelakaan” lanjutnya.

Sejak keberadaan stasiun ini, dirinya dan masyarakat sekitar mengaku merasa terganggu dan tidak nyaman akan operasional perusahaan yang mereka nilai tidak memberikan dampak apapun secara ekonomi kepada masyarakat sekitar.

Warga khawatir apabila terjadi kecelakaan dan tabung tersebut benar-benar meledak, pihaknya yang pertama terkena dampaknya. Padahal, kata dia, perusahaan seharusnya meminta persetujuan masyarakat sekitar sebelum beroperasi.

“Kami tidak diberitahu, kami pun tak pernah menandatangani persetujuan atau izin gangguan keberadaan perusahaan tersebut. Mereka terkesan tertutup. Jika meledak bagaimana? Kami trauma seperti kejadian ledakan gas di Aceh Timur” akunya.

Ketika dikonfirmasi terkait kepemilikan usaha, dia menyebut perusahaan tersebut milik pejabat yang saat ini berkuasa.

“Kabarnya perusahaan itu milik Wakil Wali Kota Lhokseumawe. Ketika akan protes, kami justru ditantang untuk menggugat keberadaan perusaahan dimaksud. Kami berharap pemerintah mencabut izin operasional perusahaan itu” harapnya.

Terkait perizinan perusahaan, wartawan mengkonfirmasi kepada pihak terkait yakni Kepala Dinas Penanaman Modal, Perizinan Terpadu Satu Pintu dan Tenaga Kerja Kota Lhokseumawe, Amiruddin, MH.

Menurut Amiruddin, pihaknya telah menerima pengusulan perijinan perusahaan dimaksud.

“Usaha itu dikelola oleh PT. Kaneubi Rahmat Raseuki dengan nama direkturnya Hendra. Perusahaan sudah sesuai dengan yang dibutuhkan, baik itu ijin perusahaan seperti SIUPP atau SITU, dll, sudah mereka penuhi” kata Amiruddin, Senin (4/6).

Hanya saja, ia memahami masyarakat bertanya-tanya dengan keberadaan PT. KRR. Ia menyebut saat ini tidak ada lagi aturan tentang izin gangguan (HO) jika ingin mengoperasionalkan perusahaan/pabrik.

“Setelah terbit peraturan (Permendagri no 19 tahun 2017-red) yang mencabut aturan HO sehingga perusahaan tidak perlu lagi mengurus ijin gangguan. Hanya saja bila perusahaan dalam produksinya menyisakan limbah, harus ada ijin kajian lingkungan dari dinas terkait” kata Amiruddin.

Informasi dari masyarakat, Hendra disebut masih keluarga Wakil Wali Kota Lhokseumawe atau menantu dari Yusuf Muhammad, yang tercatat sebagai warga setempat.

Acehsumatra.co.id belum mendapat konfirmasi dari PT. Kaneubi Rahmat Raseuki terkait operasional serta jenis produksi yang dihasilkan dari perusahaan yang berada persis bersebelahan dengan lapangan sepakbola Gampong Uteun Bayi.

Komentar