Bacaleg DPRA Dapil 5 dari partai Gerindra, Saiful Afwadi. Dok : Ist

ACEHSUMATRA.CO.ID, Lhokseumawe — Saiful Afwadi, pria kelahiran Glumpang Sulu Barat, 35 tahun lalu ini belum banyak dikenal publik Aceh Utara. Saiful merupakan seorang pengusaha muda yang menggeluti usaha perdagangan emas online dunia.

Pada pesta demokrasi Pemilu Legislatif (pileg) tahun depan, Saiful menyatakan diri maju sebagai bakal caleg (calon anggota legislatif) untuk DPR Aceh.

Saiful terdaftar sebagai bacaleg dari Partai Gerindra untuk daerah pemilihan (dapil) Aceh 5 meliputi Kabupaten Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe.

Berbincang santai bersama acehsumatra.co.id, Senin malam (23/7), Saiful mengawali kisah perjalanan hidupnya sejak saat masih usia remaja hingga berhasil mendirikan perusahaan pialang berjangka.

Saiful bermukim di Kecamatan Dewantara sejak kecil hingga remaja. Seluruh jenjang pendidikan hingga tingkat SMA dia selesaikan di kecamatan tempat perusahaan vital nasional beroperasi.

Ketika konflik Aceh berkecamuk pada tahun 2002 hingga 2003, Saiful termasuk satu diantara ribuan masyarakat Aceh yang mencari perlindungan politik ke negara tetangga. Ia lalu menyeberang ke negeri jiran, Malaysia.

Dalam usahanya mencari suaka politik, Saiful pernah tercatat sebagai warga Aceh yang dideportasi dari Kuala Lumpur pada saat Aceh bergejolak.

“Saya pernah dideportasi dan tercatat di UNHCR ketika Aceh dilanda konflik. Jadi masa sulit Aceh juga pernah saya alami” kenang Saiful.

Paska perdamaian RI-GAM ia mulai menggeluti dunia usaha. Berbagai usaha ia coba kerjakan untuk menyambung hidup. Hingga, beberapa tahun terakhir ia mampu mendirikan PT. Equity World Futures, sebuah perusahaan jual beli emas berbasis online. Bersama perusahaan pialang (makelar/agen) berjangka ini, ia mulai melakukan kontak bisnis dengan melakukan perjalanan di Asia hingga ke Eropa.

“Pusat perdagangan emas dunia itu di London, Inggris. Jadi kita juga ikut sebagai salah satu pembeli emas, namun tidak berupa fisik (emas)” jelasnya.

Meskipun saat ini Saiful berdomisili di Jakarta, namun ia mengaku selalu mengikuti perkembangan isu apapun di tanah kelahiran. Kepada wartawan, ia menyebut dirinya kecewa dengan progress pembangunan di Aceh yang stagnan atau jalan di tempat.

“Aceh dengan dana Otsus yang mencapai puluhan triliyun rupiah dan didukung potensi yang sangat besar ternyata tidak membuat masyarakatnya sejahtera. Saya menilai anggaran yang ada tidak terarah disalurkan, disamping tidak ada pengawasan” tutur Saiful.

Merasa terpanggil jiwanya untuk memperbaiki keadaan, Saiful meyakinkan dirinya untuk membantu merubah nasib masyarakat Aceh melalui jalur politik. Ia mulai membangun komunikasi dan jaringan untuk memenangkan partai asuhan Prabowo Subianto itu pada Pileg, 17 April 2019.

“Saya maju agar suara rakyat tidak disia-siakan dan saya ingin memastikan anggaran untuk kesejahteraan rakyat itu benar-benar tepat sasaran. Saya berkomitmen membantu masyarakat kita yang memiliki keahlian” ungkapnya.

Ia lantas mencontohkan, di daerah tempat ia berasal, usaha produksi batu bata sangat menjamur. Jika terpilih, ia yakin mampu memoles kelompok-kelompok usaha tersebut hingga mampu berkembang.

Potensi lainnya yang besar seperti di wilayah Kota Lhokseumawe sebagai daerah yang memiliki beberapa destinasi wisata. Sebagai wilayah dengan hasil tangkapan ikan yang tinggi, seharusnya hasil tangkapan dapat diolah untuk mendapatkan nilai lebih.

“Selama ini kan rahasia umum, dana aspirasi tidak tepat sasaran, lalu pengawasan yang lemah sehingga dapat dimanfaatkan oleh para toke proyek yang mengendepankan laba” terangnya.

Untuk itu, ia mengajak setiap warga Aceh yang memiliki keahlian dalam dunia usaha untuk bergabung bersamanya. Ia berjanji jika terpilih kelak, akan fokus pada peningkatan ekonomi rakyat.

“Mohon doa dan dukungan dari seluruh kalangan. Mari bergabung untuk kita rumuskan satu rencana besar untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat, utamanya warga Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe” demikian Saiful.

Komentar