Kondisi los-kios yang tutup di Pasar Krueng Mane, Kec. Muara Batu, Aceh Utara saat direkam Senin, (6/8). Dok : AS

“17 tahun berjualan di kaki lima, asa Jufri untuk memiliki kedai sendiri hampa setelah pengurusan kios milik Pemkab Aceh Utara di Keude Krueng Mane, Kec. Muara Batu, kandas dan berujung piutang”

ACEHSUMATRA.CO.ID, Lhoksukon — Jufri (55 tahun) seorang pedagang makanan mengaku pernah berupaya mendapatkan kios milik Pemkab yang dikelola oleh UPTD Pasar Kec. Muara Batu di Keude Krueng Mane. Kepada acehsumatra.co.id, Senin (6/8), ia mengatakan keinginannya tersebut pernah dia upayakan pada saat pasar tersebut sedang dibangun, sekitar 5 tahun silam.

Saat itu, di lokasi bekas pasar lama yang terbakar pada masa konflik Aceh, akan dibangun beberapa unit los-kios berukuran 3×3 meter. “Ketika itu, saya dan seorang teman mengurus persyaratan untuk dapat 1 unit kios” kata Jufri memulai cerita.

Untuk mendapatkan kios, Jufri yang telah berjualan di kaki lima pasar Kr. Mane sejak 17 tahun belakangan, menyebut menyetor sejumlah uang kepada oknum tertentu agar namanya masuk sebagai pemilik kios dengan status pinjam-sewa.

Tak tanggung-tanggung, untuk mendapatkan los-kios di lokasi itu, ia mengaku dimintai uang sebesar Rp.25 juta oleh oknum tertentu. Apa lacur, kios tak kunjung didapat, justru ‘uang pengurusan’ yang sudah dibayarkan setengahnya, belum dikembalikan seluruhnya oleh oknum dimaksud.

“Ada sisa uang yang belum dilunasi oleh oknum tersebut, saya kecewa. Saya sudah 17 tahun berjualan di kaki lima, hingga hari ini belum dapat kios. Padahal kios itu banyak tak dipakai pemiliknya” ujarnya.

Warga Kecamatan Gandapura, Kab. Bireun ini berharap dapat memiliki unit kios di lokasi pasar. “Saya siap membayar pajak atau retribusi untuk Pemerintah Aceh Utara asalkan saya dapat menyewa kios di pasar itu” kata dia yang tetap bertahan berjualan di kaki lima, masih sama seperti 17 tahun yang lalu.

Pengakuan Jufri ada benarnya, hasil pantauan media, belasan unit los-kios di bagian dalam pasar yang bersisian langsung dengan jalan nasional Banda Aceh – Medan tersebut terlihat dalam kondisi tutup.

Hanya beberapa los-kios di sebelah luar saja atau yang bersebelahan dengan jalan yang terlihat dihuni dan difungsikan oleh pemilik. Sementara kios dibagian dalam terpantau dalam kondisi tertutup.

“Kios yang di dalam gak jualan karena tidak ada jalan masuk, pembeli sepi. Semua kios itu ada pemiliknya” aku seorang pria pemilik usaha jahit/konveksi yang mengaku sebagai pemilik salah satu kios.

Pria yang enggan menyebutkan namanya ini mengaku, awalnya juga sebagai pedagang kaki lima di kawasan itu. Seiring dengan dibangunnya kembali pasar tersebut, namanya dimasukan ke dalam daftar penerima manfaat. Ia mengaku tidak membayar apapun untuk pengurusan kepemilikan.

Salah satu pemilik los-kios yang menggabungkan dua pintu los-kios dengan sewa Rp.1.080.000 per unit di Pasar Kr. Mane Kec. Muara Batu, Aceh Utara, Senin (6/8). Dok :AS

Pedagang konveksi ini membuka usahanya di dua pintu los-kios, miliknya dan milik seorang rekan. “Sejak dua tahun terakhir saya sewa dua unit dan bayar pajak. Satu milik sendiri dan satunya milik kawan. Tahun ini saya bayar pajak Rp.1.080.000 per tahun untuk 1 unit, naik dari tahun lalu” ujarnya.

Ia menyebut tidak masalah dengan tarif retribusi yang ditetapkan oleh pemerintah asalkan ia tetap bisa membuka usahanya dengan nyaman.

Dikonfirmasi melalui sambungan telpon, Kepala UPTD Pasar Kr. Mane, Drs Abdullah mengaku tidak mengetahui transaksi atau praktek busuk untuk mendapatkan jatah los-kios di pasar itu. Di pasar itu, kata Abdullah terdapat 28 unit los-kios yang seluruhnya telah ada pemilik.

“Pasar itu sudah 2 tahun kita serahkan atau tahun 2016. Memang pembangunan pasar sudah lama selesai. Saya tidak tahu jika ada proses bayar-bayar untuk pihak tertentu untuk mendapatkan kios, karena sejak saya disini sudah ada nama-nama pemilik” ujar Abdullah.

Sementara untuk alasan tidak difungsikannya belasan unit kios oleh pemilik, ia membenarkan karena alasan akses jalan. Ia menyebut pedagang buah di kaki lima menghambat akses atau pintu masuk ke dalam pasar.

Selain itu, Abdullah menyebut tidak ada komplain oleh warga sekitar terkait kepemilikan los-kios di pasar itu.

“Kios itu ada pemilik dan kita tetap tagih biaya retribusi tahunan, walaupun mereka tutup. Tapi, selalu alasan penjualan sepi dan lain-lain yang membuat pedagang selalu menunggak” tuturnya.

Komentar