Kasat Reskrim Polres Lhokseumawe, IPTU Riski Adrian memperlihatkan tersangka pelaku perdagangan manusia dalam konferensi pers di Mapolres setempat, Jumat (7/9). Dok : AS

ACEHSUMATRA.CO.ID, LHOKSEUMAWE – NW (24 tahun) dan DY (20), warga Kota Lhokseumawe, Aceh, menjadi korban perdagangan manusia di negeri Jiran Malaysia. Niat untuk bekerja di sebuah kafetaria pun buyar setelah korban jatuh ke tangan sindikat prostitusi dan dipekerjakan sebagai PSK di wilayah Maluri, Kuala Lumpur.

“Kasus ini terungkap setelah korban berhasil lolos dari tempat lokalisasi prostitusi dan pulang ke tanah air. Korban didampingi orang tuanya kemudian melaporkan kasus ini kepada polisi pada Senin, 3 September lalu” tutur Kapolres Lhokseumawe, AKBP Ari Lasta Irawan dalam konferensi pers yang disampaikan Kasat Reskrim IPTU Riski Adrian di Mapolres, Jumat (7/9).

Hasil pemeriksaan terhadap korban, polisi berhasil meringkus seorang ibu rumah tangga yang merupakan terduga pelaku perdagangan orang (human trafficking) jaringan internasional. “Polisi mengamankan FA alias RE (29), warga Kec. Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Tersangka RE ini merupakan jaringan internasional” ujar Riski.

Dijelaskan, kasus ini awalnya terjadi pada bulan Nopember 2017. Saat itu, tersangka RE mengajak para korban untuk bekerja bersama di sebuah kafe di Negeri Jiran. Sebelum mengajak para korban, RE mengaku bertemu seorang wanita (DPO) asal Kota Lhokseumawe yang bekerja di lokalisasi prostitusi Maluri.

“Tersangka RE mengajak beberapa wanita dengan tujuan bekerja di Kafetaria di Malaysia. Dia mengimingi mereka akan dibayar 1000-2500 Ringgit atau dari 3 s/d 8 juta Rupiah per bulan” sambung Riski.

Setelah korban bersedia, RE dan korban lalu berangkat ke Medan, Sumatera Utara. Di kota ini, para korban diuruskan pembuatan paspor yang seluruh biayanya ditanggung oleh tersangka.

Setelah memiliki paspor, tersangka RE dan korban berangkat ke Batam dari Bandara Kuala Namu, Sumatera Utara.

“Di Batam, para korban diserahkan ke seorang pria, yang sudah kita tetapkan DPO. Lalu, dari sini, korban diseberangkan ke Malaysia melalui jalur laut” jelas Riski.

Keterlibatan RE pada kasus ini semakin nyata ketika dirinya batal menyeberang bersama para korban. Ya, sedari awal perjanjian, tersangka menyebut dirinya akan ikut serta bersama korban untuk bekerja di Malaysia.

“Ternyata dia tidak berangkat. Ia (RE) berdalih, paspornya belum selesai dibuat dan ia menyebut akan menyusul. Tersangka lalu menyerahkan korban kepada agen, dan dia kembali ke Aceh” ungkap Riski.

Tersangka FA (29) alias RE, warga Kec. Muara Dua, Kota Lhokseumawe saat ditanya penyidik perannya dalam jaringan internasional perdagangan manusia. Dok : AS

Sesampai di Malaysia, korban diserahkan kepada seorang warga Tionghoa yang biasa dipanggil Koko. Menurut keterangan korban, kata Riski, NW dan DY beserta puluhan wanita lainnya ditempatkan di sebuah mess milik warga tionghoa tersebut. Di dalam mess itu sendiri dihuni lebih kurang 60 wanita berusia 15-25 tahun.

“Mereka dibawa ke lokalisasi prostitusi untuk melayani pelanggan yang sebelumnya sudah memesan PSK pada si Koko. Korban dipaksa menjadi PSK dan hanya apabila sakit atau hamil serta memasuki periode bulanan saja baru dikembalikan ke Mess” kata Riski.

Masih menurut keterangan Kasat Reskrim, korban akhirnya berhasil meloloskan diri dari tempat lokalisasi. Ia kemudian bertemu dengan warga Aceh di Malaysia. Warga Aceh itu tadi kemudian membuat video pendek tentang kondisi korban, yang saat itu belum menyebut sebagai korban perdagangan orang.

Video itu lalu disebarluaskan di media sosial dan akhirnya identitas korban dapat diketahui, setelah orang tuanya mengenali wanita dalam vidio tersebut merupakan sosok anaknya. “Hingga saat ini, korban masih mengalami depresi, trauma berat” kata dia.

Untuk penanganan kasus ini, Polres Lhokseumawe, kata Riski masih melakukan pengembangan untuk menangkap para pelaku. Sementara untuk para korban yang belum berhasil dikembalikan, pihaknya akan berkordinasi dengan berbagai pihak.

“Menurut laporan, selain teman korban, masih banyak korban lainnya baik warga Aceh atau WNI dari tanah air yang menjadi korban. Sementara kepada pelaku, dijerat menggunakan UU nomor 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang dengan ancaman kurungan 15 tahun penjara” demikian Kasat Reskrim.

Komentar