Foto Koordinator YARA Pantai Timur, Basri. Dok : Ist

ACEHSUMATRA.CO.ID, IDI — Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) menerima pengaduan dugaan pemerasan yang dilakukan oleh oknum pengacara terhadap keluarga mantan Napi Lembaga Pemasyarakatan Lambaro, Aceh Besar.

Selama menggunakan jasa oknum yang mengaku berprofesi sebagai pengacara tersebut, keluarga korban merasa menjadi korban pemerasan atau dijadikan mesin ATM.

Koordinator YARA Pantai Timur, Basri, kepada acehsumatra.co.id, Kamis (13/9) mengatakan, kasus ini seperti yang dilaporkan Ratna, Warga Montasik, Aceh Besar. Ratna menggunakan jasa pengacara untuk memulangkan kembali suaminya ke Lapas di Aceh agar dekat dengan keluarga.

“Pasca kerusuhan Lapas Lambaro, banyak napi yang disebar ke lapas-lapas di Aceh dan Sumatera Utara. Korban Ratna, berniat menggunakan jasa pengacara untuk mengurus memulangkan suaminya yang dipindah ke Lapas di Tebing, Sumut” kata Basri yang dihubungi melalui sambungan telpon.

Dalam masa pengurusan, Ratna mengaku acap kali dimintai uang oleh pelaku. Pelaku, kata Basri meyakinkan korban mampu mengurus pemulangan suami korban ke Lapas di Aceh dengan waktu singkat.

Namun, nyatanya nasib Ratna tak ubah seperti kata pepatah ‘sudah jatuh tertimpa tangga pula’.

Hingga tenggat waktu yang dijanjikan yakni memasuki meugang puasa hingga Hari Raya Idul Fitri 2018, suami Ratna yang terjerat kasus Narkoba, tak kunjung berhasil dikembalikan ke Aceh.

“Saya minta dikembalikan saja uang saya. Saya kecewa dengan kinerja pengacara tersebut. Berulang kali dimintai uang, dari alasan untuk pergi ke Kementrian dan DPR RI di Jakarta” tutur Basri, menirukan keluhan Ratna ketika melaporkan kasus ini.

Menanggapi hal itu, pihaknya, kata Basri akan mendalami kasus yang diadukan masyarakat. Ia malah menyebut, kemungkinan korban lebih dari satu orang.

“Selain Ratna ada dua laporan lagi dari warga Takengon, Aceh Tengah dan Matang Glumpang Dua di Bireuen. Sekarang kita sedang mendalami kasus tersebut, seberapa banyak yang dimintai uang oleh oknum pengacara” jelas Basri.

Menurut keterangan korban, korban mengalami kerugian karena dimintai uang berulang kali dengan dalih untuk biaya pengurusan. Jumlah yang diberikan keluarga setiap dimintai oleh oknum pengacara pun variatif, dari Rp2 juta hingga Rp3 juta.

Basri berharap, dengan adanya pengaduan ini, turut diikuti keluarga napi yang menjadi korban untuk melapor. Ia yakin, dengan banyaknya korban akan terungkap kebohongan oknum pengacara tersebut.

“Kita mengharapkan dengan adanya pengaduan ini akan terungkap kasus dan modus yang dimainkan oleh pengacara tersebut. Karena sejauh ini sangat banyak praktek jasa yang menjanjikan sesuatu kepada kliennya” ujarnya.

“Setelah laporan dan bukti-bukti dilengkapi kita akan teruskan laporan ini kepada pihak berwajib atau ke kepolisian” kata Basri meyakinkan.

Sementara untuk korban, YARA akan melakukan upaya pemulangan seperti yang diharapkan keluarga korban.

“Kita akan coba ikut membantu para korban dalam hal memulangkan keluarganya ke Lapas yang ada di Aceh” demikian Basri.

Komentar