Warga Desa Trieng Pantang menggelar kenduri tahunan dibawah 7 rumpun bambu pantang di Lhokseukon, Selasa (2/9). Dok : Ist

ACEHSUMATRA.CO.ID, LHOKSUKON — Ratusan warga Gampong Trieng Pantang, Kecamatan Lhoksukon, Kab. Aceh Utara menggelar kenduri tahunan sebagai bentuk syukuran atas rezeki yang selama ini diberikan atau menolak segala marabahaya. Kenduri yang diawali dengan pengajian ini digelar Selasa (2/9) dibawah rimbunnya tujuh rumpun bambu yang di desa setempat dikenal sebagai ‘Trieng Pantang‘.

Sejumlah warga terlihat antusias menunggu hidangan kari kambing yang disuguhkan pantia kepada warga seusai menggelar pengajian di lokasi itu.

Keuchik Trieng Pantang, Hasanuddin, SHi mengatakan pihaknya telah menetapkan lokasi itu sebagai situs wisata religi. “Banyak yang berkunjung kemari baik bagi kita yang melaksanakan kenduri tahunan maupun dari warga gampong sekitar. Disini juga ada makam ulama asal Mesir yang sudah masuk dalam situs cagar budaya oleh Pemkab Aceh Utara Bidang Kebudayaan dan Pariwisata” tutur Hasanuddin.

Menurut cerita, kata Keuchik Hasanuddin, konon tujuh rumpun bambu tersebut sudah tumbuh sejak tahun 1607 Masehi atau sebelum masa kejayaan kerajaan Aceh dibawah pimpinan Sultan Iskandar Muda. Di lokasi ini, sebut Hasanuddin, konon juga pernah disinggahi oleh Sultan Iskandar Muda beserta para pengikut.

Masih menurut Hasanuddin, masyarakat sekitar bahkan tidak mengambil bambu tersebut untuk kebutuhan pribadi. Warga juga tidak mengizinkan bambu tersebut diambil untuk dibawa keluar gampong. Bambu tersebut hanya boleh digunakan untuk keperluan terbatas.

“Hingga kini tidak ada warga yang mengambil bambu tersebut untuk kepentingan pribadi karena dipantangkan (pamali-red) oleh orang-orang terdahulu” sebut Hasanuddin.

Ditempat ini sebut Keuchik Hasan, masyarakat mempercayai sebuah cerita yang diakui bukan sebagai mitos atau dongeng tentang adanya Tikus yang berukuran sebesar Kelinci atau Tikus putih serta kehadiran Harimau Teungku Malem Diwa.

“Selain bambu, juga ada gundukan tanah di lokasi ini yang sering dijadikan sebagai lokasi melepas kaoy atau nadzar, bahkan oleh warga dari Sigli hingga Aceh Timur” ungkapnya.

Untuk memudahkan warga yang berkunjung di lokasi Trieng Pantang, pihaknya kata Keuchik Hasan sudah mendirikan balai berukuran 4×4 meter untuk tempat istirahat. Balai tersebut juga dilengkapi sumur dan lampu penerangan untuk mempermudah tamu dalam beribadah.

“Semoga dengan fasilitas yang ada saat ini memudahkan para tamu dalam melaksanakan kegiatannya di gampong Trieng Pantang” demikian Hasanuddin.

Komentar