ACEHSUMATRA.CO.ID, Takengon -Menyikapi fenomena ambruknya plafon Rumah Sakit Datu Beru Takengon yang Kedua kalinya, sebagai mana yang telah diberitakan sebelumnya, Wakil Bupati Aceh Tengah, H Firdaus SKM menyarankan agar segera diusut semua element yang terkait pengerjaan proyek pembangunan gedung rumah sakit milik Pemda Aceh Tengah ini.

“Sebelum terjadi musibah yang menyebabkan adanya korban jiwa, segera usut para pelaksaan proyek pembangunan gedung rumah sakit tersebut, mulai dari Konsultan Pengawas, Kontraktor Pelaksana sampai dengan PPTK nya,” ujar Firdaus kepada acehsumatra.co.id, Senin, (12/08/19).

Ini bukan musibah yang wajar lagi, kata mantan pemilik utama Rumah Sakit Islam Lhokseumawe itu lagi.

“Sudah dua kali kejadian yang sama, atap plafon ruang rawat inap pasien ambruk dan disana masih ada pasien yang sedang dirawat, hanya saja terjadi pada gedung ruangan yang berbeda, pertama diruang Kepies, kali ini diruang Renggali, besar kemungkinan semua ruangan kualitas plafonnya demikian,” kata Firdaus yang hobby melantunkan lagu Gayo ini.

Pada kesempatan tersebut Firdaus berharap agar segera dilakukan pemeriksaan terhadap pihak pelaksaan pembangunan gedung ruangaan rumah sakit tersebut, mulai dari Konsultan Pengawas yang mengawasi pelaksaan proyek tersebut, lalu juga harus dilakukan pemeriksaan terhadap Kontraktor Pelaksana apakah kontraktor yang memilli pengalaman dibidang pembangunan gedung atau apakah itu kontraktor yang belum berpengalaman, dimana hal ini tentu berkaitan pada PPTK pembangunan proyek tersebut.

“Harus segera dilakukan pemeriksaan terhadap komponen pelaksana kegiatan proyek pembangunan gedung rumah sakit ini, hal ini dilakukan guna mengantisipasi jatuhnya korban jiwa, ini menyangkut nyawa orang lho, jangan main-main dengan nyawa orang,” ujar Firdaus lagi.

Sebelumnya Firdaus sempat mengeluarkan statmen bahwa dr Hardiyanis dianggap mulai kurang fokus dalam melakukan pengawasan di Rumah Sakit Datu Beru, hal ini dikatakan Firdaus saat itu, karena menurut nya dr Hardi sedang mengikuti proses pendidikan Sub Spesialis disalah satu Universitas di Banda Aceh.

Dengan demikian, lanjut Firdaus saat itu, tentu saja konsentrasi waktu, tenaga dan fikiran dr Hardi harus terbagi antara tugas sebagai pelayan pasien dan pimpinan rumah sakit dan juga untuk mempertahankan nilainya pada pendidikan yang sedang ditempuhnya, dimana masih menurut Firdaus, seharusnya dr Hardi mengundurkan diri dahulu dari Jabatannya baik secara jabatan fungsional maupun jabatan struktural.

“Hal ini (dr Hardi disarankan mundur) agar konsen dr Hardi fokus pada satu titik kegiatan, jadi tidak ada yang keteteran seperti sekarang ini,” pungkas Firdaus.(ROBBY)

Komentar