ACEHSUMATERA.CO.ID, Takengon – Menyikapi dua kejadian fenomenal di Rumah Sakit Umum Daerah Datu Beru Takengon, Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar akhirnya mempersilakan pihak terkait untuk segera lakukan pemeriksaan di rumah sakit milik Pemda penghasil kopi terbaik kelas dunia tersebut.

Hal ini disampaikan Bela, panggilan akrab bupati yang diusung oleh partai PDI Perjuangan dan PAN tersebut kepada media acehsumatra.co.id Selasa, (14/08), melalui telpon selulernya.

“Saya sudah nendapat laporan terkait masalah ambruknya plafon gedung ruangaan rumah sakit tersebut, ada yang ukuran reng dikecilkan, ada yang memang sengaja kayu sudah lapuk tapi masih dipasang, dan saya harap pihak terkait segera lakukan pemeriksaan pada bangunan rumah sakit itu,” ujar Bela yang mengaku sedang mengikuti acara rapat di Medan.

Ketika ditanya mengenai pihak terkait yang ia maksud, Bela memaparkan, ada Inspektorat, ada Kepolisian ada pihak Kejaksaan dan ada juga pihak BPKP, Bela mempersilakan kepada semua pihak tersebut untuk melakukan pemeriksaan terhadap kualitas pembangunan gedung ruangan dirumah sakit kebanggaan masyarakat gayo tersebut dengan melibatkan pihak wartawan.

“Segera lakukan pemeriksaan bukan pengawasan lagi, baik Inspektorat, Polisi, Jaksa dan BPKP dengan melibatkan wartawan, periksa terus konsultan pengawas hingga kontraktornya,” ujar Bela lagi.

Disinggung terkait adanya tuntutan dari beberapa pihak agar dirinya segera mencopot dr Hardiyanis Sp.Pd dari jabatannya sebagai dirut, Bela menjelaskan bahwa dirinya bukan mempertahankan dr Hardi sebagai dirut karena ada hal-hal lain diluar keprofesionalan dr Hardi yang dianggap nya berhasil memimpin dan memajukan Rumah Sakit Datu Beru dengan segudang prestasi yang membanggakan.

Kendati ada beberapa orang yang secara langsung menyampaikan kepada Bela terkait setatus keagaman dr Hardi yang non muslim, Bela mengaku dirinya tidak dapat dengan serta merta mencopot jabatan seseorang hanya karena Keyakinan yang berbeda, dengan tanpa ada kesalahan fatal yang diperbuatnya.

“Saya adalah bupati, yang disamping sebagai pemimpin, saya juga harus mampu menjadi penengah dan penyeimbang, mana mungkin saya mencopot dr Hardi dari jabatannya sebagai dirut rumah sakit, hanya karena alasan beda keyakinan,” pungkas pria lima anak ini.(ROBBY)

Komentar